Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

pemilu 2024
Penulis: Nuryadi, S.H, M.M

Kolom: Pemilu 2024, Caleg dan Filosofi Musim Gugur



Berita Baru, Kolom – Dalam perjalanan melalui puncak, jambu air merah di pajang dan ditawarkan dipinggir jalan, sepertinya lagi musim jambu air merah.

Penulis berpesan agar berhati-hati memilih jambu air merah, soalnya sering terjadi warnanya merah merona dan tampak manis, namun rasanya hambar.

Musim hari ini sulit untuk diprediksi, nampaknya sangat panas namun terkadang juga turung hujan, sama halnya panas di Eropa seringkali tidak bisa diprediksi.

Terkadang bisa hangat dan menyenangkan, kadang panasnya sampai ke ubun-ubun. Orang bilang, Eropa hanya menarik saat musim panas. Tapi saya tak sependapat.

Tidak seperti Indonesia yang hanya punya 2 musim kemarau dan hujan, Eropa adalah negeri dengan 4 musim, yakni musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Musim semi biasanya terjadi pada Maret, April dan Mei.

Pada musim ini cuaca cenderung hangat, menyenangkan, dan menjadi musim bagi bunga-bunga untuk bermekaran.

Dinamakan ‘semi’ karena di sana bunga-bunga memang sedang bersemi. Musim Semi juga disebut-sebut sebagai waktu terbaik melihat ladang tulip di Belanda, atau menikmati cantiknya bunga Sakura di Negeri Jepang.

Lantas bagaimana dengan musim gugur?

Musim gugur adalah peralihan dari musim panas ke musim dingin. Dedaunan tua akan digantikan oleh daun muda, yang qualified atau memiliki kemampuan berfotosintesis sempurna.

Salah satu keunikan musim gugur sangatlah sulit kita definisikan dengan kata-kata dedaunan yang berwarna-warni bak origami itu berguguran diterpa tiupan angin.

Tentu saja, ada daun yang kuat bertahan di rantingnya, namun ada juga yang tidak kokoh, lalu jatuh perlahan ke pelukan bumi.

Dedaunan tua akan digantikan oleh daun muda, yang qualified atau memiliki kemampuan berfotosintesis sempurna.

Keunikan musim gugur sangatlah sulit kita definisikan dengan kata-kata. Sekaligus diingatkan bahwa musim dingin yang sepi dan panjang akan segera tiba.

Fase pergantian masa memang datang atau pergi silih berganti, namun setiap yang menjauh ada pula yang datang mendekat.

Politisi alias pekerja politik juga demikian, ada yang kian bersemi, banyak pula yang berguguran. Begitulah kodrat alam yang tidak akan berubah sebelum kiamat tiba.

Terjemahan Surah Al-An’am ayat 32: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.”

Allah SWT telah menegaskan dalam Alquran bahwa kehidupan di dunia tidak lebih hanya main-main dan senda gurau belaka.

Ibarat sebuah peran yang sedang dimainkan di atas panggung sandiwara. Sebagus atau seburuk apapun peran yang kita dapatkan pasti akan berakhir

Sebagus atau seburuk apapun peran yang kita dapatkan pasti akan berakhir. Karenanya, tidak salah jika Almad Albar alias Si Kribo sang vokalis Band God Bless dalam lirik lagunya menyebutkan, “Dunia ini panggung sandiwara”.

Setiap kita dapat satu peranan, yang harus kita mainkan, ada peran wajar dan peran berpura-pura.

Mengapa kita bersandiwara?

Dunia ini penuh peranan, dunia ini bagaikan jembatan kehidupan, begitu pun, niat menjadi caleg ada yang sekedar menjalankan perintah partai, keinginan istri, membenahi hidup, popularitas, atau mengabdi untuk masyarakat, tidak masalah.

Tapi yang terpenting adalah jika dengan politik, anda bisa mengajak orang ramai-ramai salat fardhu ke masjid, maka teruslah berpolitik.

Jika dengan politik, anda mampu mengasah dimensi spiritulitas, semakin taat, tawaddhu dan tidak terlelap dengan kesuksesan duniawi, maka teruslah berpolitik.

Berbaiklah kepada setiap orang yang berada di jalanmu untuk naik ke puncak ketinggian, karena saat turun nanti kalian akan bertemu dengan mereka lagi.

Kepada Caleg yang telah menyapa lewat spanduk, banner dan sejenisnya, namun belum mendapat amanah dari rakyat, bersegeralah untuk move on.

Sebab setiap jiwa punya jalan hidup masing-masing, yang kesemuanya mengandung hikmah bahwa peristiwa getir yang sering kita anggap tidak elok, malah mendatangkan berjuta hikmah dan kebaikan.

Semua yang putih memiliki masa lalu, dan setiap yang hitam punya masa depan. Manusia tak mampu mengubah sesuatu yang pernah terjadi di masa lampau, tetapi kita punya kesempatan dan tekat kuat untuk memperbaiki masa depan

Pesan moral bagi penulis, ayo bersama-sama kembali merajut tali silaturahmi tanpa memandang pangkat dan status sosial.

Penulis: Nuryadi, S.H, M.M