Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

chatgpt
Aplikasi ChatGPT. (Dok istimewa)

Makin Ngeri! ChatGPT “Lulus” Ujian Kuliah Kedokteran dan Bisnis



Jakarta – Platform kecerdasan buatan ChatGPT baru-baru ini menunjukkan kecanggihannya dengan menyelesaikan ujian kuliah bidang medis dan bisnis.

Kecanggihan tersebut membuat para guru dan praktisi akademik khawatir ChatGPT akan digunakan untuk melakukan kecurangan pada ujian-ujian tersebut.

Profesor di Wharton University Christian Terwiesch melakukan penelitian menggunakan GPT-3 OpenAI, model bahasa yang digunakan untuk membuat ChatGPT, untuk mengikuti ujian akhir Master of Business Administration (MBA).

Dia menyimpulkan GPT-3 akan mendapatkan nilai B atau B- jika mengikuti ujian.

Terwiesch menyebut GPT-3 sangat mahir “pada manajemen operasi dasar dan pertanyaan analisis proses.” Pasalnya, chatbot dapat memberikan jawaban yang benar dan penjelasan yang sangat baik mengapa sebuah jawaban dipilih.

Meski demikian, dalam makalah berjudul “Would Chat GPT3 Get a Wharton MBA? New White Paper,” Tewriesch menyebut GPT-3 sama sekali tidak sempurna.

Bot, katanya, terkadang membuat kesalahan dalam perhitungan matematis sederhana dan tidak mampu menangani pertanyaan analisis proses lanjutan.

Studi yang dilakukan Tewreisch ini semakin memicu perbincangan para akademisi terkait keterampilan menulis ChatGPT, kebijakan ujian, dan apa artinya memanfaatkan ChatGPT sebagai sumber daya.

Dilansir Vice, para peneliti juga telah menguji ChatGPT di United States Medical Licensing Exam (USMLE), yang merupakan ujian tiga bagian yang diwajibkan untuk lisensi medis di Amerika Serikat (AS) oleh semua lulusan sekolah kedokteran.

Mereka menemukan ChatGPT berhasil mendekati atau berada di ambang kelulusan untuk tiga ujian dan menunjukkan tingkat konsistensi dan wawasan yang tinggi dalam penjelasannya.

Para peneliti menyimpulkan model bahasa besar seperti ChatGPT memiliki potensi untuk membantu pendidikan kedokteran dan pengambilan keputusan.

Makalah tersebut menyatakan dokter dalam klinik virtual yang disebut Ansible Health telah mulai bereksperimen dengan ChatGPT dalam membantu tugas penulisan.

Misalnya, menulis surat permohonan dan menyederhanakan laporan medis yang rumit untuk membantu pasien lebih memahami kondisi mereka.

Tak hanya bidang medis dan bisnis, ChatGPT mencetak tingkat akurasi 50 persen pada komponen pilihan ganda dari Ujian Pengacara Multistat (MBE).

Ujian Pengacara adalah ujian yang harus dilalui oleh lulusan sekolah hukum untuk dapat secara resmi mempraktikkan hukum dan terdiri dari tiga bagian, dengan MBE sebagai bagian pertama.

Walau ChatGPT tidak mungkin membuat pendidikan tinggi menjadi usang, banyak pihak berupaya mencari perlindungan dari penyalahgunaan alat ini.

Salah satunya yang dilakukan oleh mahasiswa berusia 22 tahun bernama Edward Tian yang saat ini sedang mengembangkan aplikasi yang dapat mendeteksi teks yang dihasilkan oleh ChatGPT.

“Semua orang berhak untuk mendapatkan keuntungan dari AI, jadi kami membutuhkan perlindungan agar teknologi baru ini tidak disalahgunakan,” kata Tian kepada Motherboard, unit teknologi Vice.

Meski masih dalam versi beta, ChatGPT digunakan oleh jutaan orang untuk berbagai tujuan, mulai dari menegosiasikan tagihan internet hingga membuat “istri” virtual.

Pada Senin (23/1), raksasa teknologi Microsoft bahkan melakukan investasi US$10 miliar atau sekitar Rp150 triliun di OpenAI, perusahaan induk di belakang ChatGPT dan pembuat teks-ke-gambar DALL-E.

Investasi tersebut adalah peningkatan signifikan dari investasi awal US$1 miliar atau Rp15 triliun di perusahaan yang dilakukan pada 2019.