
Dompet Dhuafa Sulsel Gelar Pertemuan Penulis Ajatappareng 2025 di Parepare
Berita Baru, Parepare – Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Pertemuan Penulis Ajatappareng 2025.
Acara itu berlangsung di Auditorium BJ Habibie, Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota Parepare, Sabtu (30/8/2025).
Kegiatan ini menghadirkan penulis lintas generasi, komunitas literasi, dan tokoh kebudayaan nasional, di antaranya Siansari Ecip, Andi Makmur Makka, Zainal A Abdidin, dan Toha Machsum.
Pertemuan Penulis edisi kali ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai daerah Ajatappareng.
Pada pertemuan ini, turut Kepala Dinas Perpustakaan (Disperpus) Parepare Ahmad, Bunda Literasi dr Andi Arfiah Tasming, Direktur ID Humanity dan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel.
Selain Pertemuan Penulis, juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus DDV Ajatappareng 2025-2026, Talkshow PPA, Forum Group Discussion (FGD), dan launching program penertiban antologi 1000 puisi penyair Ajatappareng.
Pimpinan Cabang Sulsel Pandu Heru Satrio mendorong para penulis di wilayah Ajatappareng menjadi kekuatan baru bagi generasi muda.
“Semoga kehadiran kita pada Pertemuan Penulis Ajatappareng menjadi energi baru. Karena energi anak muda ini, kami percaya bahwa nanti akan ada kebaikan-kebaikan yang tunggu, minimal di wilayah Ajatappareng,” kata Pandu Heru.
Kata dia, dalam kegiatan ini mampu melahirkan gagasan-gagasan baru yang akan diwariskan dan juga semangat literasi.
“Ini menjadi tonggak lahirnya gagasan-gagasan baru dari Ajatappareng. Mari kita wariskan, bukan hanya kita, tetapi juga semangat. Semangat literasi yang menyalakan akal, semangat budaya yang memuatkan identitas,” ujarnya.
“Juga semangat ekonomi yang memberdayakan masyarakat, dan semangat kerelawanan yang menyatukan kita dalam kebutuhan,” tambahnya.
Kepala Disperpus Parepare Ahmad memberikan apresiasi Pertemuan Penulis Ajatappareng yang memiliki tujuan menjadi ruang berkumpulnya komunitas leterasi, pegiat sosial, dan filantropi untuk menyusun berbagai gagasan.
“Dan juga memperkuat konstribusi nyata bagi masyarakat wilayah Ajatappareng, khususnya Kota Parepare,” kata Ahmad.
Ia mengungkapkan profesi penulis saat ini mendapatkan tantangan besar di tengah perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat.
“Di tengah perkembangan teknologi dan informasi, profesi penulis semakin ditutupkan, tidak hanya di bidang penerbitan buku, tetapi juga dalam penulisan konten online, open writing, jurnalisme, dan berbagai bentuk penulisan kreatif lainnya,” jelasnya.
Meski demikian, Ahmad mengharapkan pada pertemuan penulis Ajatappareng ini mampu memiliki peran aktif menulis buku sesuai kebutuhan masyarakat.
“Karenanya, banyak buku-buku terbit, tetapi tak ditutupkan masyarakat. Sesuai tema pertemuan kita pada hari ini, memuatkan literasi dan filantropi untuk komunitas berdaya,” imbuhnya.